Menu
Nasional
Megapolitan
Daerah
Politik
Hukum
Video
Indeks
About Us
Social Media

Jokowi Bingung Anggaran Subsidi BBM Bengkak Rp700 T, Anthony Budiawan: Rakyat Juga Lebih Bingung

Jokowi Bingung Anggaran Subsidi BBM Bengkak Rp700 T, Anthony Budiawan: Rakyat Juga Lebih Bingung Kredit Foto: KSP
WE NewsWorthy, Jakarta -

Peneliti Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menyoroti kebingungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait membengkaknya subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM).

Diketahui harga BBM naik lantaran subsidinya sudah mencapai angka Rp502 T. Tetapi setelah harga BBM naik, anggaran BBM malah menjadi Rp700 T.

Baca Juga: Bongkar Asal Dana BLT BBM, Ternyata Bukan dari Pemerintah Pusat: Kebiasaan Bohong Mendarah Daging!

"Jokowi bingung. Rakyat juga lebih bingung lagi, bagaimana cara menghitung anggaran subsidi BBM sampai bisa bengkak menjadi Rp700 triliun?" ucapnya dikutip dari Twitter pribadinya, Rabu (14/9/2022).

Ia pun menduga ada kesalahan itu hingga pembengkakan bisa terjadi hingga Rp200 T.

"Mungkin ada kesalahan hitung? Bisa kasih perhitungan detilnya?" imbunya.

Diketahui Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali berbicara mengenai bengkaknya anggaran subsidi energi termasuk BBM. 

Hal itu lah yang menjadi pertimbangan utama kenaikan harga BBM.

Jokowi kembali menegaskan bahwa situasi ekonomi dunia saat ini dalam kondisi yang tidak mudah. Hampir seluruh negara menghadapi guncangan ekonomi.

"Karena setelah pandemi yang belum pulih diikuti dengan perang yang menyebabkan krisis energi, krisis pangan maupun krisis keuangan atau krisis finansial," ucapnya dalam Pembahasan Pengendalian Inflasi dengan Seluruh Kepala Daerah Secara Hybrid, Senin (12/9/2022).

Menurut Jokowi situasi ini juga dihadapi oleh Indonesia. 

Salah satu masalah yang tengah dihadapi adalah berkaitan dengan BBM.

"Ini persis sama yang dialami negara negara lain bahkan di beberapa negara harga BBM sudah berada di angka Rp 17 ribu ada yang Rp 30 ribu. Bahkan gas di Eropa sekarang ini sudah naiknya bisa 6 kali, ada 7 kali. Sehingga apa yang sudah kita tahan tahan saat itu subsidi BBM kita agar tidak membengkak lagi ternyata tidak bisa kita lakukan," terangnya.

Dari situ Jokowi menjelaskan bahwa anggaran subsidi BBM di Indonesia terus membengkak. Dari Rp 152 triliun menjadi Rp 502,4 triliun. 

Angka itu pun masih berpotensi bertambah karena hanya untuk menutupi kuota 23 juta kilo liter Pertalite dan 15,1 juta kiloliter Solar.

"Dan setelah di kalkulasi ini hanya bisa sampai pada awal Oktober, kalau sampai akhir tahun sampai akhir Desember kebutuhan kita menjadi 29,1 juta kiloliter untuk Pertalite dan 17,4 kiloliter untuk solar ini estimasi akan kurang," tegasnya.

Menurut Jokowi jika ingin pasokan BBM aman, maka dibutuhkan tambahan anggaran subsidi Rp 195 triliun.

Penulis/Editor: Alfi Dinilhaq

Advertisement

Bagikan Artikel: