Menu
Nasional
Megapolitan
Daerah
Politik
Hukum
Video
Indeks
About Us
Social Media

Serem! Anies Baswedan Nekat Lakukan Ini Sebagai Bentuk Tebus Dosa Politik Identitas, Bukti Jelas: Makan Babipun Dilakukan Demi...

Serem! Anies Baswedan Nekat Lakukan Ini Sebagai Bentuk Tebus Dosa Politik Identitas, Bukti Jelas: Makan Babipun Dilakukan Demi... Kredit Foto: Sufri Yuliardi
WE NewsWorthy, Jakarta -

Aktivis sosial Rudi Valinka menyoroti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang tampak menggunakan stola dilehernya.

Hal tersebut ditanggapi melalui akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Rudi Valinka menilai bahwa itu adalah rasa panik dari Anies Baswedan dalam menebus kesalahannya saat Pilkada 2017.

Baca Juga: Anies Baswedan Harap Pj Gubernur DKI Tidak Kerja Pakai Selera, Ferdinand Hutahaean: Kau yang Kerja Sesuai Selera Nies, Selera Buruk!

Rudi Valinka juga menyebut bahwa pada Pilkada 2017, banyak dosa Anies Baswedan terkait politik identitas sekaligus politisasi agama. 

"Kepanikan seorang @aniesbaswedan untuk mencuci dosa2 dia dalam politik identitas dan politisasi agama di pilkada 2017," ungkap Rudi Valinka melalui akun Twitter pribadi miliknya, Selasa (6/9).

Lanjut, Rudi Valinka juga menyebut bahwa Anies Baswedan sudah tidak tanggung-tanggung lagi merebut hati rakyat untuk mendukungnya hingga dengab cara apapun dilakoni.

"Berganti peran menjadi penganut agama apapun dia jalani.. Ini bukti jelas utk dapat sebuah kekuasaan memakan b*bi pun akan dia lakukan. Serem sih," pungkas Rudi Valinka.

Sementara itu, cuitan dari Rudi Valinka tersebut seraya menanggapi cuitan dari akun @pen1km4t3u4h. Akun tersebut juga mengunggah foto Anies Baswedan yang memakai stola.

"Dalam Kekristenan (Terutama @GrjKatolik @KatolikG) Stola itu HANYA boleh dipakai oleh imam/pastor (dan Diakon, dgn posisi berbeda) ketika memimpin missa/ekaristi. @aniesbaswedan ini sbg apa koq smpe dipakaikan Stola? Ini sesat namanya. Gereja politis!," tutur akun tersebut.

Diketahui, Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017 menjadi hal yang tak terlupakan bagi warga Jakarta. Hal tersebut lantaran banyak munculnya kasus penistaan agama.

Baca Juga: Jelang Lengser, Anies Baswedan Sudah Susun Rencana Pembangunan Daerah Hingga 2026: Ngibulnya Gak Nanggung...

Pilkada 2017 melahirkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam pasangan terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur yang ramai oleh isu-isu SARA dan sentimen identitas. Hal tersebut tidak hanya membawa ketegangan politik di Ibu Kota tapi juga merembet ke daerah lainnya.

Bahkan Pilkada di tahun 2017 tersebut berimbas pada nama baik DKI Jakarta mendapat predikat sebagai kota intoleransi. Padahal, tercatat dalam penelitian tahun 2015, DKI Jakarta mendapat peringkat 65 dari 94 kota toleran.

Penulis/Editor: Irania Zulia

Advertisement

Bagikan Artikel: