Kuasa Hukum Brigadir J Dilarang Lihat Rekonstruksi, Deolipa: Seharusnya Semua Orang Boleh Hadir, Jangankan Rakyat Jelata, Setan Pun Boleh..

Kuasa Hukum Brigadir J Dilarang Lihat Rekonstruksi, Deolipa: Seharusnya Semua Orang Boleh Hadir, Jangankan Rakyat Jelata, Setan Pun Boleh.. Kredit Foto: Suara.com

Mantan pengacara Bharada E, Deolipa Yumara menyoroti perlakuan Polri yang melarang pengacara Brigadir Yosua atau Brigadir J melihat proses rekonstruksi di rumah Ferdy Sambo.

Deolipa secara blak-blakan menegaskan dalam proses rekonstruksi seharusnya semua orang diperbolehkan masuk, bahkan setan pun boleh hadir.

Baca Juga: Kuasa Hukum Brigadir J Kecewa Tidak Diizinkan Lihat Rekonstruksi: Emang Polisi Punya Nenek Moyangnya? Ini Punya Rakyat!

"Kita bicara tentang rekonstruksi, rekonstruksi saya 15 tahun loh di Polres Selatan tangani berbagai macam kasus pembunuhan saya ada. Setiap ada rekonstruksi itu semua orang boleh hadir. Jangankan rakyat jelata, setan pun boleh hadir. Malaikat boleh, pengacara juga boleh hadir," ujar Deolipa seperti dikutip dari Channel YouTube salah satu TV Swasta.

"Jadi adalah suatu hal untuk memenuhi rasa keadilan, semua orang boleh dilibatkan. nggak boleh ada yang larang," imbuhnya.

Menurut Deolipa, jika memang ingin dibatasi, seharusnya pengacara korban diizinkan masuk untuk melihat yang keliru selama proses rekonstruksi.

"Salah itu Dirtipidum itu termasuk yang bodoh juga. Kalau nggak ada ketentuannya, ya dia pakai rasa keadilan yang dipakai. Bodoh itu kalau menurut saya. Seharusnya (pengacara) nonton aja enggak apa-apa. Cuma dibatasi, Oke mungkin satu pengacara korban datang satu saja, kan perwakilan," ujar Deolipa 

Deolipa juga menyinggung kehadiran Kompolnas dalam acara rekonstruksi kasus itu. Menurutnya kehadiran Kompolnas dianggap tidak begitu penting.

"Terus apa gunanya kompolnas datang ke sana? emang kompolnas Projustisia? kan kompolnas tiga, yang projustisia adalah pengacara-pengacara korban, pengacara tersangka, Jaksa, dan hakim. Tapi kan Hakim nggak muncul, Jaksa boleh muncul, pengacara boleh muncul," kata Deolipa 

Deolipa menegaskan pengacara korban justru yang paling penting dihadirkan dalam proses rekonstruksi bukan malah orang yang tidak berkepentingan.

"Yang penting ada pengacara korban, karena punya hubungan hukum. Begitu kan. Nah ini Bodohnya di situ. Kalau dibilang nggak ada ketentuan, ya emang nggak ada ketentuan. Tapi kan pakai rasa keadilan mbok ya dipikirin. Mungkin karena capek kali Dirtipidum, mungkin," pungkasnya.

Diketahui, rekonstruksi pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J berisi 78 adegan. Adegan-adegan tersebut diperagakan oleh para tersangka pembunuhan Brigadir Yosua.

Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Andi Rian Djajadi Direktur Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengatakan, 78 adegan itu dilakukan di dua tempat, rumah pribadi dan rumah dinas Ferdy Sambo.

Menurut Andi, reka ulang atau rekonstruksi tersebut merupakan peristiwa di Magelang, Saguling dan Duren Tiga.

Kemudian di rumah Saguling sebanyak 35 adegan meliputi peristiwa pada tanggal 8 Juli 2022 dan setelah pembunuhan Brigadir J. Dan rumah Kompleks Polri Duren Tiga ada sebanyak 27 adegan, tempat terjadinya peristiwa pembunuhan Brigadir Yosua,” jelasnya.

Selanjutnya
Halaman

Terkait

Terpopuler

NW Discover

Terkini