Menu
Nasional
Megapolitan
Daerah
Politik
Hukum
Video
Indeks
About Us
Social Media

Soal Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J, Pakar Pidana: Belum Ada Kebenaran, Semuanya Masih Tidak Logis..

Soal Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J, Pakar Pidana: Belum Ada Kebenaran, Semuanya Masih Tidak Logis.. Kredit Foto: Suara.com
WE NewsWorthy, Jakarta -

Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad menilai rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat di dua rumah Irjen Ferdy Sambo, kemarin, tidak sesuai ekspektasi publik.

Suparji mengatakan dalam rekonstruksi tersebut tidak ada adegan bagaimana Brigadir J melecehkan Putri dan tidak diperlihatkan bagaimana pembunuhan itu direncanakan.

Baca Juga: Menohok! Gegara Usul Poligami untuk Cegah HIV/AIDS, Wagub Jabar Langsung Disemprot: Miskin Inovasi

“Rekonstruksi pada satu sisi kita apresiasi, ya. Tetapi pada sisi yang lain, tidak sesuai ekspektasi publik, karena tidak menggambarkan imajinasi publik dan juga tidak menggambarkan fakta yang mengemuka di publik,” ujar Suparji seperti dikutip dari Channel YouTube salah satu TV Swasta.

Dia menilai rekonstruksi pembunuhan Brigadir J masih belum ada kebenaran dan tidak logis.

“Belum ada kebenaran, karena semuanya masih tidak logis. Yang rekonstruksi ini juga tidak dianggap sebagai sebuah kebenaran, mengingat tadi bagaimana pelecehan seksualnya tidak ada, dan kemudian merencanakan pembunuhannya juga tidak nampak di situ. Itu yang sangat mendasar,” jelas dia.

Menurut Suparji, rekonstruksi tersebut justru membuat narasi baru yang menjadi bahan perbincangan publik.

“Harapan kita dalam rekonstruksi ini adalah memastikan tentang fakta-fakta yang kemudian itu sekedar sebuah reka ulang, tetapi justru yang terjadi kita saksikan bersama itu tidak sesuai dengan fakta yang logis dan tidak sesuai dengan fakta yang rasional,” ujar dia.

“Karena tadi itu, katanya pelecehan seksual, tapi tidak ada adegan-adegan (pelecehan seksual) apa pun di situ. Katanya pembunuhan berencana, tapi tidak kelihatan bagaimana merencanakan, bagaimana memberikan senjatanya, bagaimana menggunakannya. Padahal, kan ini yang ditunggu oleh jaksa, bagaimana anatomi perkara ini menjadi jelas dan lengkap,” pungkasnya.

Diketahui, rekonstruksi pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J berisi 78 adegan. Adegan-adegan tersebut diperagakan oleh para tersangka pembunuhan Brigadir Yosua.

Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol) Andi Rian Djajadi Direktur Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengatakan, 78 adegan itu dilakukan di dua tempat, rumah pribadi dan rumah dinas Ferdy Sambo.

Menurut Andi, reka ulang atau rekonstruksi tersebut merupakan peristiwa di Magelang, Saguling dan Duren Tiga.

Kemudian di rumah Saguling sebanyak 35 adegan meliputi peristiwa pada tanggal 8 Juli 2022 dan setelah pembunuhan Brigadir J. Dan rumah Kompleks Polri Duren Tiga ada sebanyak 27 adegan, tempat terjadinya peristiwa pembunuhan Brigadir Yosua,” jelasnya.

Penulis/Editor: Devi Nurlita

Advertisement

Bagikan Artikel: