Menu
Nasional
Megapolitan
Daerah
Politik
Hukum
Video
Indeks
About Us
Social Media

Polisi Divonis Bebas Terkait Tembakan Gas Air Mata Tragedi Kanjuruhan, Pengamat: Ini Menunjukkan.. Hakim Adalah Wakil Pemilik Kekuasaan

Polisi Divonis Bebas Terkait Tembakan Gas Air Mata Tragedi Kanjuruhan, Pengamat: Ini Menunjukkan.. Hakim Adalah Wakil Pemilik Kekuasaan Kredit Foto: Fajar.co.id
WE NewsWorthy, Jakarta -

Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto menyoroti terdakwa Tragedi Kanjuruhan eks Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, yang divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Hal tersebut ditanggapi Gigin Praginanto melalui akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Gigin Praginanto mengatakan bahwa hakim ialah wakil dari pemilik kekuasaan.

Baca Juga: Pantesan Erick Thohir Gak Berani Pecat Ahok, Rizal Ramli Bongkar-bongkaran: Ahok Banyak Tau Rahasia Jokowi

Gigin Praginanto juga menyinggung perihal kemanusaiaan.

"Ini menunjukkan bahwa hakim sesungguhnya wakil dari pemilik kekuasaan. Ini sekaligus menunjukkan bahwa kemanusiaan hanya pelengkap penderita dalam penegakan hukum," tutur Gigin Praginanto dikutip WE NewsWorthy dari akun Twitter pribadi miliknya, Jumat (17/3).

Sementara itu, diketahui bahwa Bambang merupakan salah satu polisi yang didakwa memerintahkan penembakan gas air mata ke arah tribun suporter Arema Malang di Stadion Kajuruhan.

Dalam pertimbangannya, Ketua Majelis Hakim Abu Achmad Sidqi Amsya mengatakan tembakan gas air mata yang ditembakkan para personel Samapta Polres Malang hanya mengarah ke tengah lapangan.

"Menimbang memperhatikan fakta penembakan gas air mata yang dilakukan anggota Samapta dalam komando terdakwa Bambang saat itu asap yang dihasilkan tembakan gas air mata pasukan terdorong angin ke arah selatan menuju ke tengah lapangan," kata Bambang, saat membacakan putusan, Kamis (16/3).

Setelahnya, asap tersebut mengarah ke pinggir lapangan. Namun sebelum sampai ke tribun, asap itu tertiup angin menuju atas. Sehingga, menurut Hakim, unsur kealpaan terdakwa sebagaimana dakwaan kumulatif jaksa, yakni Pasal 359 KUHP, Pasal 360 ayat (1) dan Pasal 360 ayat (2) KUHP, tidak terbukti.

"Karena salah satu unsur yaitu karena kealpaannya dalam dakwaan kumulatif ke satu, dua dan tiga tidak terpenuhi maka terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana, sehingga terdakwa dibebaskan dari seluruh dakwaan," ujarnya seperti dilansir dari CNN.

Bambang sebelumnya didakwa memerintahkan penembakan gas air mata menggunakan flashball warna hitam tipe Verney-Carron Saint Etienne ke arah suporter pada Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022. Satriyo Aji Lasmono dan Willy Adam Aldy Alno adalah yang mendapat perintah itu.

Hal tersebut disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) saat pembacaan dakwaan kasus Tragedi Kanjuruhan yang menyebabkan korban tewas atau luka-luka di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (16/1).

Jaksa menjelaskan para supporter menjadi panik dan berlari untuk mencari pintu keluar stadion secara berdesak desakan akibat tembakan gas air mata itu.

Usai perintahkan tembakan itu, terdakwa pun menerima panggilan dari Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto melalui alat komunikasi HT (Handy Talkie) agar terdakwa dan anggota Sat Samapta mengawal mobil barakuda yang berisi para pemain Persebaya Surabaya.

Baca Juga: Soal Kunjungan Heru Budi ke SUGBK Demi Jelang Piala Dunia U-20 2023, Warganet: JIS-nya Kok Gak Dipake?

Saat itu mobil barakuda tidak bisa jalan karena terhalang dua mobil lalu lintas Polres Malang yang kondisinya hancur dan juga ada pengadangan yang dilakukan oleh para suporter Arema.

"Kemudian terdakwa menuju kendaraan water canon yang berada di luar stadion Kanjuruhan untuk melakukan pengawalan terhadap mobil barakuda bersama anggota Sat Samapta," ucap dia.

Jaksa menilai perbuatan terdakwa yang memerintahkan penembakan gas air mata di dalam Stadion Kanjuruhan bertentangan dengan ketentuan Pasal 19 angka 1 huruf b Regulasi Keselamatan dan Keamanan PSSI Edisi 2021.

Dalam ketentuan itu dijelaskan untuk melindungi para pemain dan official serta menjaga ketertiban umum, diperlukan pengerahan steward dan/atau petugas polisi di sekitar perimeter area pertandingan, saat melakukannya, pedoman berikut harus diperhatikan senjata api atau senjata pengurai massa tidak boleh dibawa atau digunakan. Dalam tuntutannya jaksa pun meminta Bambang dihukum tiga tahun penjara.

Baca Juga: Kenapa Kita Perlu Beralih ke Kendaraan Listrik?

Penulis/Editor: Irania Zulia

Advertisement

Bagikan Artikel: