Menu
Nasional
Megapolitan
Daerah
Politik
Hukum
Video
Indeks
About Us
Social Media

Netizen Ungkap Pendapat Liar Keterkaitan Antara Bom Bunuh Diri Astana Anyar dengan KUHP Baru

Netizen Ungkap Pendapat Liar Keterkaitan Antara Bom Bunuh Diri Astana Anyar dengan KUHP Baru Kredit Foto: Antara/Didik Suhartono
WE NewsWorthy, Jakarta -

Polsek Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat tengah menjadi sorotan usai ledakan bom bunuh diri terjadi, ternyata pelakunya datang membawa sepeda motor dengan tulisan kritik soal KUHP.

Melansir dari CNN Indonesia, pelaku bom bunuh diri Astana Anyar diduga mengendarai sepeda motor berwarna biru ke lokasi kejadian dan memarkirkan di depan polsek.

Baca Juga: Aksi Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar Bukan Pengalihan Isu, Guntur Romli Beberkan Alasannya Terkait Tempat Tugas Teroris

Pada sepeda biru yang digunakan pelaku bom bunuh diri Astana Anyar terdapat secarik tulisan yang berisi 'KUHP:HUKUM Syirik/Kafir Perangi Para Penegak Hukum Setan QS. 9:29'.

Selain itu juga terdapat tulisan 'Rasul Muhammad' pada setang motor dengan huruf hijaiyah. Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Suntana membenarkan hal ini.

"Sedang diidentifikasi plat nomor AD dari Surakarta," kata Suntana saat dikonfirmasi,

Terkait pesan tentang KUHP, netizen dengan akun Twitter @lutfikr00 menduga bahwa ini bertujuan agar masyarakat yang menolak KUHP baru akan dicap sebagai 'golongan' pelaku bom bunuh diri.

"Pendapat liar ku, malah jadinya orang-orang yang nolak KUHP, kritik, malah dicap sebagai "golongan" mereka jadinya, padahal enggak," ungkapnya dikutip NewsWorthy dari Twitter, Kamis (8/12).

Sementara itu, KUHP baru yang disahkan masih dianggap kontroversial oleh publik, terlebih pada pasal penghinaan terhadap pemerintah. 

KUHP mengatur pidana yang berbeda antara yang kedapatan menghina dan yang menyebarkannya.

Aturan tersebut tertuang dalam Pasal 240 Ayat 1 yang berbunyi "Setiap orang yang di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina pemerintah atau lembaga negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan atau pidana denda paling banyak kategori II."

Baca Juga: Jokowi-Paloh Dikabarkan Sudah Bertemu, Nasib Pencapresan Anies Diujung Tanduk?

Penulis/Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Advertisement

Bagikan Artikel:

Berita Terkini

Lihat semuanya