Menu
Nasional
Megapolitan
Daerah
Politik
Hukum
Video
Indeks
About Us
Social Media

Tren Harga Beras Naik, Politisi Demokrat: Ketinggian Bapak Ngomong Kendaraan Listrik dan Startup Kalau Urus Beras Aja Pontang-panting

Tren Harga Beras Naik, Politisi Demokrat: Ketinggian Bapak Ngomong Kendaraan Listrik dan Startup Kalau Urus Beras Aja Pontang-panting Kredit Foto: Antara/ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj
WE NewsWorthy, Jakarta -

Sekretaris Departemen IV DPP Partai Demokrat, Hasbi Lubis menyoroti harga beras di Indonesia yang ada dalam tren naik.

Ia pun menyinggun Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang gembar-gembor bicara soal kendaraan listrik dan ekosistem digital.

Baca Juga: Alasan Kemiskinan Papua Dibongkar, Demokrat Dikuliti Terkait Pernyataan AHY Soal Kasus Lukas Enembe: Mental Partai Pecundang!

"Ketinggian bapak ngomongin kendaraan listrik, startup, dan ekosistem digital, tapi ngurusin beras saja masih pontang-panting," ucapnya dikutip dari Twitter pribadinya, Jumat (30/9/2022).

Melansir CNBCIndonesia, Harga beras terpantau masih dalam tren naik. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, harga beras hari ini, Kamis (29/9/2022 pukul 13.37 WIB), naik Rp10 jadi Rp12.580 per kg untuk beras premium dan naik Rp20 jadi Rp11.040 per kg beras medium.

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, tren kenaikan harga beras sudah berlangsung sejak Agustus 2022.

"Sebenarnya kenaikan harga beras sudah mulai Agustus lalu. Memang, nggak biasa, harga sudah naik di bulan Agustus. Ini dipicu kebijakan pemerintah sendiri. Ditambah, ada kondisi teknis di lapangan," kata Sutarto dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis (29/9/2022).

Kebijakan dimaksud, lanjut dia, pencairan bantuan pangan nontunai (BPNT) yang berlangsung serentak dan tidak melalui satu pintu penyaluran. Akibatnya, sulit dikontrol.

Kedua, kata dia, pemerintah menaikkan harga pembelian (HPP) beras untuk pengadaan stok Perum Bulog. Akibat kenaikan sekitar Rp500 untuk beras, ujarnya, mendorong kenaikan harga beras di pasar.

"Pada saat bersamaan, sekarang sudah di musim panen kedua, yang biasanya harga memang akan naik secara musiman. Setelah musim panen kedua ini, pasokan akan turun sampai masuk musim panen raya pertama tahun depan," jelasnya.

Karena itu, lanjutnya, pada saat seperti ini, di mana pasokan lebih rendah dari permintaan, pemerintah lewat Bulog harus menggiatkan operasi pasar (OP).

Sutarto menambahkan, akibat kenaikan harga pembelian pemerintah, saat ini terjadi perebutan pasokan beras di lapangan.

"Ini tentu mendorong pembelian beras dengan harga yang lebih mahal. Padahal, seyogianya saat ini adalah pemerintah melepas cadangannya ke pasar. Untuk menutupi kekurangan di lapangan dan mencegah kenaikan inflasi," ujarnya.

Penulis/Editor: Alfi Dinilhaq

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: