Menu
Nasional
Megapolitan
Daerah
Politik
Hukum
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ketum PBNU Tolak Organisasi NU jadi Alat Politik Pemilu 2024, Eh Diceletukin: Lihat Sepak Terjang NU Zaman Now, Kalian Percaya?

Ketum PBNU Tolak Organisasi NU jadi Alat Politik Pemilu 2024, Eh Diceletukin: Lihat Sepak Terjang NU Zaman Now, Kalian Percaya? Kredit Foto: Sufri Yuliardi
WE NewsWorthy, Jakarta -

Pegiat media sosial Bacrum Achmadi menyoroti pernyataan Yahya Cholil Staqut Ketua Umum PBNU yang dengan tegas menolak organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dijadikan alat politik.

Ia pun tidak percaya dengan pernyataan Kakak dari Mentri Agama Yaqut Choliq Qoumas ini.

Baca Juga: Polda Metro Disebut Kobarkan Politik Identitas Lantaran Bentuk Pasukan Basmallah, Pengamat: Isu SARA Jadi Alat...

"Gus Yahya Menolak Organisasi NU Dijadikan Alat Politik Pemilu 2024. Percaya ga klen sodara2? Aku sih gak percaya klo melihat sepak terjang NU zaman now," ucapnya dikutip dari Twitter pribadinya, Jumat (30/9/2022).

Sebelumnya, Yahya Cholil Staquf atau biasa disebut Gus Yahya dengan tegas menolak ormasnya dijadikan alat politik pada pemilihan umum (pemilu) 2024 mendatang. 

Gus Yahya berharap politik identitas tak lagi mendominasi gelaran pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia. 

"Kami (NU) menolak secara tegas dan terus terang untuk dijadikan alat politik pada pemilu yang akan datang," kata Gus Yahya dikutip dalam laman resmi NU Online, Jumat (30/09/2022). 

"Politik identitas yang kita pernah alami tidak boleh terulang lagi apalagi sampai merusak nama baik Indonesia," kata dia. 

Mantan jubir Presiden Abdurrahmman Wahid (Gus Dur) ini menyampaikan masyarakat perlu menghindari politik identitas.

Sebab politik identitas kerap kali dijadikan senjata bagi kelompok dan organisasi tertentu untuk menjatuhkan lawan politiknya bahkan mengancam keutuhan bangsa dan negara. 

"Ancaman terkait politik identitas ini berkaitan erat dengan konteks di ranah global, seperti radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Bahkan konflik di belahan dunia lain," tandas Gus Yahya.

Penulis/Editor: Alfi Dinilhaq

Advertisement

Bagikan Artikel: